Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh dari masjid di
samping rumah saat aku menerima telepon dari ibu yang langsung disambut dengan
“Selamat ulang tahun,anakku”. Hari ini memang hari ulang tahun ke yang ke dua
puluh satu. Dan setelah mengakhiri percakapan dengan ibu, aku langsung
tersenyum sembari mengucap syukur, “Terimakasih Tuhan atas usiaku yang sudah
menjejak ke angka dua puluh satu”. Aku bergegas keluar kamar untuk mengambil
air wudhu. Tapi alangkah terkejutnya aku ketika membuka pintu.
Sebuah meja kecil menghadangku. Satu mug besar berisi latte.
Sepotong roti bakar berbentuk love yang tidak begitu sempurna, sepertinya berisi
parutan keju dan susu kental manis. Setangkai bunga tulip berwarna merah. Satu
lembar foto diriku, kalau dilihat-lihat diambil candid karena aku tidak ingat sama sekali pernah difoto dengan pose
itu. Dan yang terakhir sebuah amplop putih. Semua itu tertata rapih di atas
meja kecil di hadapanku.
Sejenak aku hanya terkesima. Sampai akhirnya aku sadar, aku
harus membaca isi surat dalam amplop putih itu dan berharap dapat mengetahui
siapa yang telah melakukan ini semua. Aku buka amlpop itu dan dengan perlahan
membuka lipatan surat yang ada di dalamnya. Serangkaian tulisan yang tidak
begitu rapih langsung menyergap mataku. Aku pun mulai membaca isi surat itu.
