Tampilkan postingan dengan label #15HariMenulisBlog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #15HariMenulisBlog. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Oktober 2011

Hadiah Spesial di Hari Ulang Tahunku


Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh dari masjid di samping rumah saat aku menerima telepon dari ibu yang langsung disambut dengan “Selamat ulang tahun,anakku”. Hari ini memang hari ulang tahun ke yang ke dua puluh satu. Dan setelah mengakhiri percakapan dengan ibu, aku langsung tersenyum sembari mengucap syukur, “Terimakasih Tuhan atas usiaku yang sudah menjejak ke angka dua puluh satu”. Aku bergegas keluar kamar untuk mengambil air wudhu. Tapi alangkah terkejutnya aku ketika membuka pintu. 

Sebuah meja kecil menghadangku. Satu mug besar berisi latte. Sepotong roti bakar berbentuk love  yang tidak begitu sempurna, sepertinya berisi parutan keju dan susu kental manis. Setangkai bunga tulip berwarna merah. Satu lembar foto diriku, kalau dilihat-lihat diambil candid karena aku tidak ingat sama sekali pernah difoto dengan pose itu. Dan yang terakhir sebuah amplop putih. Semua itu tertata rapih di atas meja kecil di hadapanku.

Sejenak aku hanya terkesima. Sampai akhirnya aku sadar, aku harus membaca isi surat dalam amplop putih itu dan berharap dapat mengetahui siapa yang telah melakukan ini semua. Aku buka amlpop itu dan dengan perlahan membuka lipatan surat yang ada di dalamnya. Serangkaian tulisan yang tidak begitu rapih langsung menyergap mataku. Aku pun mulai membaca isi surat itu.


Selasa, 04 Oktober 2011

#5 Yang Tak Akan Hilang

Tak terasa permainan #15harimenulisdiblog sudah memasuki hari ke-#5. Hari ini temanya hilang. Hmm... tulisan ini bukan tentang sesuatu yang hilang. Tak ada guna membicarakannya, karena yang telah #hilang tidak mungkin kembali. Tulisan ini tentang sesuatu yang tak akan hilang.

----------------------------------------------------------------------------------------------


Sore itu aku hanya berdua saja dengan ibu di rumah. Ibu asyik menonton drama korea kesayangannya di televisi. Sementara aku sibuk dengan smartphone di genggaman dan tenggelam dalam twitter-land. Tiba-tiba ibu memanggilku ketika layar kaca sedang menayangkan iklan.
“Mbak”.
“Hmm… apa bu?”, sahutku.
“Kemarin teman ibu ada yang nanya, ibu udah nyiapin warisan apa buat mbak dan dede?”.
“Terus ibu jawab apa?”, tanyaku penasaran.
“Ibu cuma bisa mewariskan ilmu”.
Lalu ia melanjutkan, “Yah mbak kan tahu kita bukan orang kaya. Ibu sama bapak nggak punya apa-apa. Tanah hanya punya sepetak. Emas pun cuma ada beberapa gram. Mungkin bukan harta yang dapat ibu wariskan, tapi ilmu. Ilmu yang selama ini ibu dan bapak ajarkan kepada mbak dan dede. Ilmu yang akan menuntun kalian menjadi sukses. Ilmu tak akan berkurang, justru akan semakin bertambah ketika kamu mengamalkannya dengan baik. Ilmu adalah warisan yang tidak akan pernah hilang, sekalipun kamu tak punya harta benda.”
Aku tertegun mendengar penuturan ibu. Seketika aku langsung memeluknya dan berkata, “Makasih bu. Makasih atas warisan yang ibu kasih”. Aku memeluknya erat dan tak terasa sebulir air mata menetes di pipiku. :’)


#15HariMenulisBlog
#5 #Hilang
Tulisan #4 Linimasa
Tulisan #3 Kenal Belum Tentu Sayang
Tulisan #2 Malam Minggu Kliwon


with ♥
hanun

Minggu, 02 Oktober 2011

#3 Kenal Belum Tentu Sayang

Pepatah bilang "tak kenal maka tak sayang", benarkah demikian? Apakah orang yang sudah saling mengenal pasti akan selalu saling menyanyangi? Dari kecil aku tidak pernah kenal, tidak pernah tahu siapa Bapakku. Setiap kali aku bertanya pada ibu, beliau hanya menjawab "Sudahlah kamu tidak usah bertanya tentang bapak lagi, lebih baik kamu belajar saja, biar pintar dan jadi orang sukses".Selalu itu yang ku dengar atas pertanyaan yang sama yang akhirnya membuatku bosan untuk menanyakannya pada ibu, bukan karena sudah mengetahui jawabannya namun karena aku tahu jawaban yang keluar dari mulut ibu tak akan pernah memuaskanku.

Hingga kini aku menginjak usia 25 tahun. Aku telah memenuhi keinginan ibu, menjadi orang sukses. Aku bekerja di sebuah bank swasta. Penghasilanku lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kami berdua. Sering kali aku harus pulang larut malam dan membiarkan ibu seorang diri di rumah karena tuntutan pekerjaan. Semuanya berjalan baik-baik saja, sampai kejadian hina itu terjadi.


Sabtu, 01 Oktober 2011

#2 Malam Minggu Kliwon

Seperti malam-malam kliwon sebelumnya, Paijo sedang mempersiapkan sesajen untuk Jeanny, jin peliharaannya yang membantu kisah asmara Paijo agar selalu berjalan mulus dengan kekasihnya, Painem. Setangkai mawar putih, sebatang coklat Cadburry Dairy Milk dan sebuah boneka Teddy Bear sudah disiapkan di sebuah gazebo kosong di taman depan rumahnya. Lalu ia mulai membacakan sebuah puisi cinta untuk memanggil Jeanny. Seketika muncul asap yang menandakan kedatangan Jeanny. Tak ada percakapan di antara Paijo dan Jeanny. Mereka hanya berdansa diiringi alunan desau angin di antara pepohonan dan membiarkan langkah kaki menggiring mereka ke dalam suatu gerakan harmonis. Di penghujung dansa, mereka berpagutan cukup lama, “Agar pesonamu tidak hilang dan Painem selalu lengket denganmu” begitu tutur Jeanny saat Paijo bertanya mengapa ia harus menciumnya. Begitulah ritual yang dilakukan Paijo bersama Jeanny yang harus merelakan beberapa  malam minggunya tanpa Painem. Sebuah ritual di malam minggu kliwon.


#15harimenulisblog
#2  Malam Minggu


with ♥
hanun