Rabu, 26 April 2017

[Resensi] Some Kind of Wonderful



Judul: Some Kind of Wonderful

Penulis: Winna Efendi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Harga: Rp 79.000,-

Tebal: 360 halaman









Mulanya aku cukup kaget ketika tahu mbak Winna mengeluarkan buku di penerbit lain. Untungnya buku tersebut masuk di lini metropop, jenis buku kesukaanku. Aku membaca ini tanpa ekspektasi apapun. Hanya berbekal nama besar Winna Efendi yang sudah aku yakini kualitas tulisannya.

Characters
Liam Kendrick
Seorang lelaki yang berhasil mewujudkan mimpinya untuk menjadi chef terkenal. Kini ia sukses menjadi koki terkenal di Sydney yang memliki acara masak sendiri di stasiun televisi nasional. Suksesnya karier Liam, sayangnya tidak diikuti dengan suksesnya percintaan Liam. Liam harus rela melepaskan seorang yang dicintainya. Someone he loves but he can never and will never have.

Aurora Handitama
Yang lebih dikenal dengan Rory. Wanita yang bekerja di kedai kopi, juga sebagai pelayan dan salah satu pengisi acara anak yang ditayangkan oleh stasiun televisi Network Eleven. Rory terpaksa mengambil banyak pekerjaan untuk melunasi hutang-hutang yang ia miliki. Selain itu, ia juga butuh membuat pikirannya selalu sibuk agar tidak teringat akan rasa kehilangan dua orang yang paling ia kasihi. Karena rasa kehilangan itu juga Rory akhirnya harus rela membuang impiannya jauh-jauh.


Minggu, 09 April 2017

Advance Reading, 6 Alasan Untuk Baca Boy Toy

Minggu, 19 Maret 2017 lalu, aku dan 4 orang lainnya mendapat kesempatan untuk ikut acara Advance Reading Boy Toy dari pihak Gramedia Pustaka Utama. Seperti kita tahu, mbak aliaZalea akan meluncurkan buku barunya yang berjudul Boy Toy. Nah, kami berlima ini beruntung banget bisa membaca ceritanya lebih dahulu daripada kalian.




Boy Toy sendiri adalah seri baru yang diciptakan mbak aliaZalea, yaitu seri Pentagon. Kalau di seri terdahulu sudut pandangnya adalah dari tokoh cewek, maka di seri Pentagon ini sudut pandangnya dari tokoh cowok. Karena Pentagon sendiri adalah boyband yang beranggotakan 5 cowok. Taran, Nico, Pierre, Erik dan Adam adalah cowok-cowok ganteng personel Pentagon. Mbak aliaZalea membuka seri ini dengan menyajikan kisah Taran Aditya.

Rabu, 09 November 2016

Butir Ketiga Sumpah Pemuda

Akhir-akhir ini aku lagi seneng nonton vlog-nya Ernest Prakasa. Lebih tepatnya nonton video yang ada Sky, anaknya Ernest. Aku ngefans berat sama Sky. Pemikirannya yang out of the box, jadi keunikan sendiri yang bikin betah ditonton. Belum lagi kemampuannya berbahasa Inggris. Aku iri, kalah jauh sama anak kecil itu.

Nah, suatu hari aku mantengin vlog Ernest di sekolah. Mumpung ada wifi dan lumayan buat nyumpal telinga dari obrolan guru-guru yang bahas masalah politik mulu. Ternyata ada salah satu guru yang mengintip. Kemudian beliau berceletuk, "Anak itu ngomongnya bahasa Inggris? Itu yang merusak bahasa Indonesia." And you know what? Komentar tersebut keluar dari seorang guru PKn. Berhubung aku males berargumen, jadi yaudahlahyaaa... Aku lanjutin lagi aja nontonnya.

Beberapa hari kemudian saat mengajar di kelas, entah gimana ceritanya, aku agak lupa, kami membahas kepanjangan VIP adalah Very Important Person. Kemudian ada siswa yang celetuk kurang lebih begini, "Bu, itu kan bahasa Inggris. Kata Bu piiiiiiippp (dia menyebutkan nama guru bahasa Indonesia) harusnya kita berbahasa Indonesia aja. Bahasa Inggris bisa merusak bahasa Indonesia."

Sampai sini apakah kamu mau jedotin kepala? Kalau iya, yuk bareng-bareng sama aku.

Aku sedih banget pernyataan itu keluar dari seorang pendidik, PNS pula. Ternyata, tingginya tingkat akademis dan pekerjaan, tidak menjamin seseorang untuk open minded.

Aku mungkin nggak pinter mengenai Pendidikan Kewarganegaraan. Aku juga awam mengenai sejarah. Aku pun bukan ahli bahasa. Namun menurutku, butir ketiga Sumpah Pemuda yang berbunyi "Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.", maknanya bukan untuk mengekang kita mempelajari bahasa asing. Di situ tertera "...bahasa persatoean, bahasa Indonesia", berarti bahasa Indonesia dijadikan salah satu alat pemersatu bangsa. Seperti yang kita tahu, Indonesia terdiri dari banyak suku yang masing-masing memiliki bahasa daerah. Untuk menyatukan dan mempermudah komunikasi antarsuku, maka digunakan bahasa Indonesia. Sepahamanku sih itulah makna butir ketiga Sumpah Pemuda.

Jadi, bukannya kita hanya boleh berbahasa Indonesia dan tidak boleh mempelajari bahasa asing. Kalau memang harus berbahasa Indonesia yang baik, aku setuju. Di era sosial media saat ini, mungkin banyak anak-anak yang lebih mahir "menulis" status yang tentunya menggunakan bahasa gaul. Membaca bacaan yang "bergizi" pun sepertinya juga jarang, sehingga mereka tidak paham cara berbahasa yang baik. Khususnya dalam hal tulis-menulis.

Namun, balik lagi, hal ini jangan dijadikan pengekangan untuk kita belajar bahasa asing. Percuma Indonesia ini kaya, tapi nggak ada yang bisa mempresentasikannya ke bangsa lain hanya karena kita tidak bisa berbahasa Inggris. Lagi pula menurutku, kalau kamu cuma bisa berbahasa Indonesia kamu hanya akan berada di Indonesia. Beda dengan mereka yang bisa berbahasa Inggris, mereka punya peluang untuk melihat dan mengunjungi negara lain, secara langsung atau hanya melalui dunia maya.

Semoga, hanya di tempatku saja ada orang yang tidak setuju penggunaan bahasa Inggris. Semoga di luar sana banyak orang yang sangat open minded, bahkan mengenalkan dan mengajarkan bahasa Inggris kepada anak sejak usia dini.

Jadi, inti tulisan kali ini adalah berbahasa Indonesia yang baik itu penting tetapi belajar bahasa Inggris (dan bahasa asing lainnya) juga tidak kalah penting. Sebuah catatan saja, kita fasih menulis "at home" tetapi sering kali salah saat menuliskan "di rumah.

Senin, 17 Oktober 2016

[Resensi] Matahari

Judul: Matahari

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Harga: Rp88.000,00

Tebal: 400 halaman









Sepulangnya dari klan Matahari, Raib, Seli, dan Ali kembali menjalani aktivitasnya dengan normal. Mereka kembali disibukkan dengan kegiatan sekolah, layaknya siswa pada umumnya. Yang sedikit berbeda dengan siswa lainnya, adalah apa yang dibaca oleh mereka bertiga. Jika siswa lain sibuk membaca buku teks, mereka justru membaca virtual book yang berada di dalam tabung kecil pemberian Av sesaat sebelum mereka kembali ke Bumi.

Namun seperti kita tahu, hidup selalu memberi kejutan yang tidak terduga. Diawali dengan masuknya Ali menjadi tim inti basket sekolah. Ali yang tidak pernah terlihat memegang bola basket dan selalu dianggap remeh oleh guru dan teman-temannya, tentu sebuah kejutan besar dan perlu dipertanyakan ketika ia mampu membawa tim basket sekolah ke babak final. Keanehan selanjutnya adalah kapsul terbang buatan Ali. Berkat tabung kecil dari Av, Ali mengetahui teknologi dan kekuatan yang dimiliki oleh klan Bulan dan Matahari. Ali kemudian menggabungkan dua kekuatan itu dan mengaplikasikannya pada kapsul ciptaannya. Masih berbekal tabung kecil dari Av, Ali bisa memprediksi letak klan Bintang yang selama ini misterius dan dianggap hanya sekadar legenda. Ali percaya kapsul buatannya mampu mencapai klan Bintang. Maka berbekal dengan rasa ingin tahu dan jiwa petualang khas anak remaja, Raib,Ali dan Seli berangkat menuju klan Bintang.

Perihal Jodoh, Tanyakan Padaku, Jangan Mereka!

Rasanya baru kemarin mendapat pertanyaan "Mau kuliah di mana? Jurusan apa?" Kemudian beberapa waktu berikutnya, dicecar oleh kalimat "Gimana skripsinya? Jadi kapan lulus nih?" Selanjutnya, pertanyaan yang diawali kata "Kapan" naik tingkat menjadi "Kapan nikah?". Satu pertanyaan yang akan meneror hidupmu ketika kamu berusia twenty something masih berstatus single.

Gerah? Pasti. Sebal? Jangan ditanya. Pasalnya, perkara jodoh hanya Tuhan yang tahu kapan datangnya. Sewaktu ditanya "Kapan lulus?" aku berpikir kalau orang-orang masih menanyakan hal yang sama itu artinya aku yang malas dan kurang berusaha. Tapi ketika diteror "Kapan nikah?" aku kudu piyeee??? Aku tak tahu apakah usahaku sudah di batas maksimal, tetapi aku selalu berupaya memperbaiki diri dan segala halnya agar saat sang jodoh datang aku dalam keadaan yang pantas dan siap. Masalahnya kan, aku aja nggak tau kapan jodohku datang, lalu apakah  orang lain yang justru lebih sibuk mempertanyakannya itu bisa lebih tahu?